Media Masa Adalah Nabi, atau Corong Pengeras


Kegelisahan informasi tidak valid dan berat sebelah menjadi trending perbincangan penikmat informasi dan para wartawan baru baru ini. Media massa sebagai penyampai informasi publik mulai goyah dan tidak bekerja sesuai dengan kode etik jurnalistik yang berlaku. Berita timpang dan tidak valid tersebut tidak jarang menyulut kesalahpahaman yang berakhir dengan pertikaian.

Wartawan sekaligus Pimpinan Redaksi majalah MAYARa, Arif Khunaifi, kemarin (9/7) menuliskan rasa kecewanya di akun facebook miliknya lantaran hal ini. Ia bahkan ikut menandatangi petisi yang digelar oleh www.change.org terhadap beberapa media massa online yang menyebarkan informasi hoax, dusta, fitnah, serta berita yang bersifat adu domba.

Banyak yang memrihatinkan kualitas suguhan berita massa Indonesia yang tidak netral. Terlebih media massa internet. Munculnya web media informasi yang tidak dibarengi dengan standarisasi yang jelas. Hal tersebut membuat berita yang disuguhkan tidak punya kualitas untuk dinikmati pembaca. Tidak jarang, hal tersebut malah menyulut perseteruan karena informasi yang provokatif dan berat sebelah. Pada akhirnya, media informasi internet seolah hanya sebagai penyakit dalam dunia jurnalistik.

Bukan hanya media internet, secara keseluruhan, media massa Indonesia banyak yang tidak bertopang pada netralitas dalam menyampaikan informasi. Koran sebagai media massa tertua menjadi harapan untuk membenahi dan tidak ikut memperkeruh kondisi jurnalistik bangsa yang amburadul ini.

Edisi spesial 50 tahun KOMPAS (minggu, 28 Juli 2015), KOMPAS menyuguhkan kolom khusus berlembar-lembar yang berjudul MEMANGGUNGKAN KEINDONESIAAN yang berisi tulisan-tulisan dari para tokoh dalam negeri dari berbagai elemen, termasuk presiden dan wakil presiden, berkaitan dengan pers, Harian KOMPAS khususnya.

Hampir keseluruhan pengisi kolom tersebut berharap bahwa pers mampu menjadi sebuah informasi yang cerdas dan menjadi penopang keberhasilan negara dalam bertindak. Hemengku Bawono X berpendapat bahwa KOMPAS (-- tentu pula untuk media yang lain--, red) bisa bercermin kepada pendahulu bangsa yang berjuang melalui pers. Pers ikut andil dalam menyokong sekaligus ikut berperan dalam pembenahan negara dengan informasi yang valid dan faktual.

Ketidakinginan media massa sebagai alat untuk permainan yang tidak netral juga disampaikan oleh ketua PBNU, Said Agil Sirodj. Ia mengungkapkan sering mengambil referensi dalam kebijakan urusan organisasi yang ia pimpin dari media massa. Maka ia berharap, media massa tetap berada dalam kodratnya sebagai penyampai informasi tanpa merubah informasi sedikitpun.

“Layaknya corong pengeras, media massa tidak memiliki hak mengubah irama, tetapi hanya meninggikan suara agar suara yang disampaikannya bisa didengar ke seluruh penjuru”. Ungkapnya.


Said Agil juga mengatakan bahwa media massa ibarat nabi yang memegang amanat besar, dipercaya untuk memantau dan mengontrol jalannya pemerintah dan penopangnya, termasuk organisasi kemasyarakatan yang mendapat mandat dari rakyat.

Para tokoh berharap kesentralan media massa ini tidak diselewengkan untuk kepentingan pribadi maupun kelompok demi kemaslahatan umat. Melihat harapan rakyat yang sangat besar akan informasi dari media massa.



Wallahu A’lam



Komentar

  1. tulisan loe keren bang.....internet emang penyakit jurnalistik...hahaha

    BalasHapus
  2. iya sih memprihatinkan. Sekarang kalo baca berita-berita yang ada di internet jadi mesti mikir 2x...

    BalasHapus
  3. bener banget ni
    Berita berita sekarang kadang-kadang suka bikin provokasi orang
    jadi males baca berita

    BalasHapus
  4. Menghawatirkan memang, orang-orang bisa membuat situs provokatif dan menganggap dirinya adalah pers yg mempunyai kebebasan berpendapat. Meminta pemerintah bertindak pun langkah yg kurang tepat karena akan dianggap pembungkaman kebebasan berpendapat. Pada akihrnya masyarakatlah yg harus memberikan hukuman pada media-media kampret ini dengan tidak membuka situs atau mengshare linknya.

    BalasHapus
  5. ah bener juga
    saya serng lihat tuh berita-berita nggak jelas dan biasanya itu dari facebook.
    Cenderung seperti memprovokasi pembacanya dengan berita yang entah bener atau tidak.

    Kalau dilihat sih, media massa online itu kayaknya hanya peduli sama traffic tinggi biar untung, makanya suka nulis berita yang berbeda dengan fakta yang ada biar jadi hot dan trending gitu

    BalasHapus
  6. Iyap, pada awal mulanya yang sedemikian ini enggak terdeteksi. Masyarakat --termasuk saya-- mudah sekali terprovokasi atas apa-apa yang kami baca melalui internet. Tapi untungnya, dari pihak-pihak yang masih mau berpikir, dan menganalisa, mereka --termasuk bang moti dalam postingan ini-- memberikan pemahaman untuk tidak langsung menelan mentah-mentah setiap kabar yang beredar.

    Ya, semoga media-media online kedepannya bisa lebih bertanggung jawab dan masyarakat bisa menyaring berita dengan baik.

    BalasHapus
  7. Ihh bener bingittttt mot!! Gue setujuuuu....media skrang tuh artikelnya kdang suka keterlaluan,,,,beritanya suka uoax, mengadu domba, nyinyir abis dan gitulah..dishare banyak orng tampa tau kebenarannya..suka kadang gedeg sndiri sma orng yg nulis artikel2 mcam itu...kita sbgai pembaca emng hrus jeli.

    BalasHapus

Posting Komentar