Tugas, Kritik dan Sanksi

 Begini, boy. Kau tau bahwa apa yang kita lakukan tak selamanya benar. Dalam sebuah lembaga dengan tata aturan yang ditetapkan, sanksi adalah ganjaran untuk orang-orang yang melanggar aturan yang sudah disepakati. Dan kau tau sendiri, boy. Sanksi bukanlah ganjaran atas rasa dendam. Tidak ada! Kecuali orang-orang yang lalai.

Sanksi adalah sistem untuk memperbaiki diri dengan menciptakan rasa jera agar kesalahan yang sama tidak terulang kembali. Semacam shock terapy. Maka tak ada sanksi yang mengandung unsur dendam, yang ada adalah cinta dan kasih sayang. “Jangan ulangi lagi, nak. Karena ini adalah hukuman agar kau tak mengulanginya kembali”.

Tapi kau tau, boy. Begitu identiknya sanksi itu dengan hal buruk dan kadang kau merasa tersudutkan dengan sanksi yang kau terima. Kau merasa menjadi pesakitan dan kadang merasa sakit hati dengan sanksi yang kamu dapat, meski sesungguhnya kamu sadar bahwa apa yang kamu lakukan adalah kesalahan. Barangkali kau orang yang berhati keras, boy. Tapi jika kau sadar dengan sanksi itu kau tak mengulanginya kembali, barangkali itu adalah tanda bahwa hatimu sedang menuju kelembutan.

Kabar gembira untukmu. Ada sistem yang bisa memperbaiki kesalahanmu dengan perubahan kebaikan. Barangkali kau kadang perlu dikritik dengan kesalahan yang kamu lakukan, atau kadang-kadang disinggung dengan lembut. Lalu hatimu tertunduk dan merasa bersalah. Lantas di waktu lain, dengan kesadaran kesalahanmu, kamu ditugasi suatu hal yang membuatmu bahagia dengan tugas tersebut karena merasa diberi keyakinan untuk menjalankan suatu amanah. Kebahagiaan diberi kepercayaan oleh orang-orang yang kamu hormati dan cintai adalah salah satu pelecut semangat kehidupanmu, boy.

Ah, seperti ketika kemarin kau disuruh-suruh oleh pacarmu untuk membelikanmu mie pangsit di warung perempatan jalan dan bertemu denganku lantas aku minta kau membayari juga mie pangsitku. Apa yang kamu rasakan? Tentu kau bahagia jika pacarmu masih memberi keyakinan padamu untuk membelikan, yah, meskipun sekedar mie pangsit. Tapi kau tentu tidak akan terima jika tiba-tiba pacarmu meminta laki-laki lain yang ada kemungkinan mengyingkirkanmu dari hati kekasihmu itu untuk membelikan mie pangsit dan kamu tidak diberi tahu.

Maka kadang sanksi terang-tarangan dalam bentuk apapun adalah keras, jika dibandikangkan dengan sanksi rahasia yang bisa membuatmu berubah menjadi baik.

Misalnya begini, boy. Kau kemarin keluar dari sekolah pada jam pelajaran. Lalu esok hari kau dipanggil kepala sekolah. Dengan tegas ia menghukummu karena menyalahi aturan. “Sebagai sanksi, bersihkan seluruh kamar mandi.”

Tapi barangkali beda, jika kepala sekolah memanggilmu, dan kamu tidak tahu jika ada sangkut pautnya dengan kejadian tempo hari. Lalu kepala sekolah mengatakan “Nak, kamu sudah belahar bertahun-tahun disini. Ada sebuah implementasi dari kebersihan yang selama ini tidak terlihat. Bapak ingin kamu menjadi pelopor kebersihan di sekolah dnegan memulai dari membersihkan kamar mandi. Tak perlu ajak teman-temanmu. Jika memang mereka perduli, mereka akan berduyun-duyun membantumu dan kamu sukses menjadi pelopor tanpa perlu menyeru. Lakukan mulai pulang sekolah nanti, nak. Jadilah pelopor kebersihan”.

Dengan kalimat yang kedua, barangkali anak itu jadi tak tahu kesalahannya, boy. Tapi kau tau, bahwa kebaikan yang ia lakukan dengan senang hati akan menjadikan hatinya lembut dan akan berubah cenderung menyintai kebaikan dan kebenaran. Perubahan baik yang barangkali tidak ia sadari. Tapi ia akan berubah. Dengan izin Tuhan.

Secara psikologi, seseorang berbeda-beda untuk dirubah. Ada yang perlu disanksi, ada hanya perlu diarahkan, ada yang hanya perlu dikritik, dan barangkali perlu disanksi “tugas rahasia” untuk mengubah hatinya cenderung pada kebaikan.

Jika kau diberikan amanah tugas sesuatu oleh gurumu, “curigalah”, barangkali kau sedang disanksi rahasia. 




Wallahu A’lam.




Komentar

  1. Em, saya sih nggak pernah disuruh guru yang aneh-aneh. Palingan diminta bawa buku ataupun bahan dari lab ke kelas.

    itu aja.


    soal sanksi yang keras, sebaiknya diucapkan dengan hati-hati agar nantinya tidak menimbulkan amarah dan dendam

    BalasHapus
  2. jadi, sanksi itu emang perlu boy. tapi, rasanya buat beberapa orang, sanksi itu nggak cukup kuat untuk menjadi shock terapy. meskipun udah kena sanksi berkali-kali, tetap aja mengulangi kesalahannya. bagaimana ini boy...

    BalasHapus
  3. Kita kan enggak boleh curigaan sama orang lain, suudzhan namanya, Moti:D

    Betewe, ya sanksi dan kritik: Sesuatu yang memang kadang kita perlukan untuk mengetahui sejauh mana kita berbuat dan bagaimana agar perbuatan kita jadi lebih baik dengan kritik.


    Eh, itu diubah, Mot, bukan dirubah :v

    BalasHapus
  4. "Sanksi adalah sistem untuk memperbaiki diri dengan menciptakan rasa jera agar kesalahan yang sama tidak terulang kembali. Semacam shock terapy."
    Tapi gak semua orang bisa gak ngulangin kesalahan yg dia bukan.

    BalasHapus
  5. keren kata-katanya, memakai sudut pandang yang berbeda. Saya paling tidak suka dimarahin atau diberi hukuman, saya hanya perlu diarahkan dan dikritik. Tentunya setiap orang berbeda-beda, hanya pengalaman yang dapat membentuk kepribadian. Tulisan yang sangat menarik, ceritanya dikemas dengan rapi, tetapi secara implisit mengandung sebuah makna

    BalasHapus
  6. Kalo gue sih tipe orang yang harus di sanksi secara terang-terangan, atau dikritik terang-terangan. Biar bisa tau kesalahannya apa dan apa yang harus diperbaiki. Gitu loh mas boy :)

    BalasHapus
  7. Menurut gue sanksi emang masih diperluin banget, kecuali kalau semua orang udah mulai tertib hidupnya, tapi kayaknya ga mungkin deh. Hehehe.

    Bener banget sih. Gue setuju sama pendapatnya setiap orang berbeda. Ada yang perlu disanksi tegas, tapi ada juga yang hanya perlu dikritik atau diarahkan.

    Engg.. Anyway, kenapa dipostingan ini cuma ada kata 'boy' yah? Apa yang 'girl' kayak gue ga boleh ikutan baca? Hehehe. ^_^

    BalasHapus
  8. udah lama nih mas, nggak berkunjung kesini hehe.

    sanksi emang penting sih supaya yang melakukan kesalahana itu bisa 'kapok' dan tidak mengulangi kesalahannya lagi seusai diberi sanksi. tapi memang nggak semua orang bisa berubah setelah disanksi, karena memang dasarnya sifat orang berbeda-beda.

    kalo kritik sih lebih ke cara penyampaiannya, asalkan penyampaiannya tepat, pasti tidak akan ada dendam dll.

    BalasHapus

Posting Komentar