MS Rotterdam Datang, Kita “Cuma” Senyum


Kapal pesiar MS Rotterdam kemarin (28/2) singgah pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Kapal mewah dengan panjang 237 meter serta lebar 7,8 meter itu disambut dengan meriah oleh kelompok kesenian SMKN 12 Surabaya. Reog Ponorogo, Gamelan, sampai ada icon punakawan yang ikut menyambut kedatangan mereka, Semar, Petruk, Gareng dan Bagong. Para penumpang yang berjumlah 1.1779 itu pun banyak yang mengabadikan gambar dengan berfoto dengan para icon punakawan.


Tidak hanya itu, mereka pun diajak untuk berjalan-jalan mengelilingi berbagai tempat terkenal di Surabaya. Mulai Tugu Pahlawan, Balai Kota Surabaya, Stasiun Gubeng, Monumen Kapal Selam, Pasar Bunga Kayoon dan berbagai tempat menarik lain yang ada di Surabaya. Bukan hanya di menikmati kota Surabaya, tapi mereka pun turut datang ke situs Trowulan, Mojokerto.

MS Rotterdam adalah kapal pesiar ketiga tahun ini yang singgah di Pelabuhan Tanjung Perak. Sebelumnya sudah ada 2 kapal pesiar yang datang, dan direncanakan masih ada 9 Kapal pesiar lagi yang akan datang ke pelabuhan tersibuk kedua di Indonesia itu.

Baik benar perlakuan orang Indonesia. Ingat benar kita ketika bangsa Indonesia harus menjalani masa kolonialisme di bawah otoritas pemerintahan Belanda. 3 Abad lebih –ada yang mengatakan kurang dari itu- kita berada dalam kungkungan ketidakmerdekaan. Dan ketika warga mereka berkunjung kembali ke tanah yang pernah mereka jajah, kita masih tetap saja tersenyum. Tidak hanya memberikan senyum, bahkan kita ajak mereka jalan-jalan. Baik benar bangsa Indonesia.

Dibalik senyum itulah, kadang kita perlu sedikit agak “jahat”. Paling tidak sebagai shock therapi dan penyadaran. Sesuatu yang barangkali tidak pernah dilakukan oleh bangsa ini. Buatlah mereka sedikit berwajah merah dan meminta maaf. Dan sedikit memunculan kemarahannya pun tak apa, kalau berani.

Sebenarnya tak apa jalan-jalan seperti itu. Tapi alangkah baiknya jika kita “sentil” mereka juga. Begini misalnya.

“Inilah tempat-tempat terkemuka di tempat kami, Mister. Tempat yang menjadi ruang berkunjung warga Surabaya. Oh, ada juga peninggalan kolonial. Gedung-gedung Belanda dengan rancangan loji dibawahnya yang dulu menggusur tanah warga-warga kami.”

Misalnya seperti itu. Boleh kita mengembangankannya. Atau boleh juga kalau mau lebih kasar dari itu. Sampai memerah dan sedikit marah lalu mereka meminta maaf juga tak apa. Yang penting tidak sampai membuat mereka menjajah lagi.

Salam


Moti Peacemaker


#Sumber: RADAR SURABAYA (Minggu, 1 Maret 2015)

Komentar

  1. Itulah Indonesia, terkenal akan keramahannya.

    BalasHapus
  2. indonesia memang indah , kita harus bisa mengenalkan ke seluruh mancanegara bahwa alam kita patut di acungi jempol ... alam kita adalah harta yang kita punya :)

    BalasHapus

Posting Komentar