Etos Kepenulisan

Siapa yang tidak sadar bahwa otak dan hati kita sangat-sangat aktif berfikir dan merasa. Menjadi titik yang sangat baik ketika hal tersebut diimplementasikan menjadi sebuah hal yang berfaedah. Baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Tentu penyampaian tersebut membutuhkan cara yang tepat. Bisa jadi dengan cara bicara, menulis, atau bahkan dari hati ke hati.
Design by : Moti Peacemaker

Salah satu cara terbaik dan termudah yang bisa kita lakukan adalah menulis. Kita tidak perlu mental untuk mengemukakan argumentasi kita seperi halnya berbicara. Dan skala penyampiannya pun mampu lebih luas, seperti membuatnya menjadi buku, mengirimkan ke media masa atau mempublikasikannya di blog.

Bahkan tak jarang orang yang benar-benar menyelami seluk beluk keilmuan demi membaiknya kehidupan diri sendiri dan kebanyakan manusia. Dan kita mengenal banyak penulis yang memiliki wawasan sangat luas dalam hal keilmuan. Etos kepenulisan orang-orang yag produktif dalam menulis dan memberi wawasan pada orang yang lain yang sangat patut untuk dijadikan panutan. Seperti Asma Nadia, Habiburrahman El-shirazy, Raditya Dika, Andrea Hirata dan berbagai penulis lain yang mendedikasikan hidup mereka untuk menulis dan kepentingan banyak orang.

Dari golongan Shalafunasshalih, Beliau-beliau mendedikasikan kehidupan mereka untuk kepentingan umat dan bahkan sangat produktif dalam menulis buku. Bahkan ulama-ulama saat ini pun juga sangat produktif dalam menulis buku. Saya membaca deretan buku-buku mereka yang sangat banyak sekali. Bahkan buku-buku dari para shalafunassholih yang sudah meluncur dari belasan bahkan puluhan abad yang lalu pun sampai saat ini masih beredar dan dibaca oleh jutaan manusia.

Saya terkdang heran dengan mereka yang mampu menulis puluhan bahkan ratusan buku ditengah himpitan waktu dan aktifitas beliau-beliau yang tentu saja juga sangat padat. Bagaimana waktu mereka dalam menulis yang tentu terdapat dalam sesak himpitan waktu aktifitas masih mampu terakomodir dengan sedemikian rupa dan tetap mampu menciptakan karya yang luar biasa.

Apa rahasia dibalik etos kepenulisan mereka yang sedemikian hebat. Tentu tekad mereka dalam menulis sangat luar biasa. Bukan sebuah mimpi apabila kita ingin seperti mereka. Namun juga harus menekan kemalasan kita dalam menulis hingga sedemikian rupa. Apalagi untuk penulis yang masih dalam tahap awal. Biasanya sering diselimuti kebosanan dalam menulis. Hal ini harus terus diperangi demi terciptanya sebuah etos kepenulisan yang menggebu-nggebu seperti para penulis yang terlah menciptakan sebuah karya yang dipersembahkan untuk berbagai kalangan.

Ayahanda dari K.H. Ahmad Musthofa bisri (Gus Mus) melakukan siasat yang luar biasa ketika menulis buku. Beliau bertutur kepada seorang kiai yang berdiskusi dengan beliau.

“saya kok mudah bosan ya kalau menyusun kitab?” tanya kiai tersebut pada K.H. Bisri Musthofa. Ayahanda dari Gus Mus.
“jenengan (kamu) niatnya menulis karena Allah, sih!” jawab K.H. Bisri Musthofa
“lho, memangnya harus bagaimana? Bukankah kita melakukan segala sesuatu harus karena Allah?” tanya Kiai itu kaget.
“kalau saya menyusun kitab, tidak saya niati karena Allah. Tapi saya niati mencari uang. Nah, pas mengirim ke penerbit. Baru saya niati mencari Ridhlo Allah. Sebab, kalau dari awal kita niat karena Allah. Kita akan terus digoda oleh syetan dan menghilangkan semangat kita dalam menulis karena Allah tersebut. Tapi ketika di awal kita niati untuk mencari hal yang dianggap sebagai hal yang tidak bersifat ibadah. Maka syetan merasa aman dengan apa yang kita kerjakan dan dogaan pun semakin ringan. Syetan juga perlu ditipu”

Masyaallah. Alangkah luar biasanya para ulama dan penulis yang bahkan tidak hanya etos kerja yang kedepankan demi terciptanya sebuah karya yang bermanfaat, bahkan sampai menggunakan siasasat yang dapat memperlancar kepenulisan yang digeluti.

Alangkah mulia orang yang dapat memberi manfaat bagi orang lain, lewat ucapan, tulisan dan hal-hal yang mampu menjadikan orang lain sebagai manusia yang sukses dunia akhirat. Dan mampu memberikan efek positif pada yang lain.

“hidup memang sementara
Tapi karya selamanya
Iwan Fals

Salam

Komentar

  1. Setuju, menulis memang membutuhkan niatan dan etos yang besar, karen hanya dengan itulah keberlangsungan kepenulisan itu tetap terjaga, saya jadi teringat dengan Alm HAMKA, yang bisa tetap menghasilkan karya kepenulisan berupa tafsir Al-Quran (yang kemudian dikenal sebagai Tafsir Al-Azhar) kendatipun beliau saat itu masih berada dalam tahanan di pemerintahan rezim Orde Lama. Sungguh dengan niat tekat dan etos yang kuat, belenggu manapun tak sanggup menghalangi seorang penulis untuk berkarya.....

    BTW, tulisannya mantep mas, ringan dibaca dan mudah dimengerti. Salam kenal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya...etos penulis itu memang sangat luar biasa....
      kita generasi muda juga harus berusaha untuk menjaga etos kepenulisan para penulis yang sudah sepuh

      Hapus
  2. bner gan etos dalam penullisan itu sangat penting sekali
    update trus gan
    salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. berusaha istiqomah nulis..ehehehehe
      cuman ya masih gini2 aja tulisannya

      Hapus
  3. Aku juga baru belajar menulis dengan jujur, setidaknya menulis untuk diriku sendiri dulu, syukur-syukur kalau di baca orang, di kasih masukan, kritikan.

    semangaaatt :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. semangt..semangat nulis....
      terus ditambah intensitas nulisnya

      Hapus
  4. dapat ilmu baru, setan juga perlu di tipu...

    awalnya aku kaget bilang nulisnya bukan karena Allah, tapi ternyata.... benar juga...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ehheheehehehehehe..ulama terdahulu emang cerdas2...
      bahkan bisa menipu setan

      Hapus
  5. salut mbah mus.... ayo dibodoni setane, sing nduwe blog iki ayo dibodoni sisan

    BalasHapus
    Balasan
    1. hadah..kowe nyeluk sopo zim...
      iku mbah bisri..ora mbah mus...

      -salah alamat

      Hapus
  6. aku juga ga bosan menulis bait-bait
    malah semakin hari menjadi lautan bahkan melangit
    kata-kata menungguku untuk dirakit
    menjadi kalimat mudah dari asal sulit

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu....kebiasaan menulis bisa mempermudah dan mendalami gaya bahasa

      Hapus
  7. teruslah menulis,..
    salam dari blogger bangilan,..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya...terus menulis...
      sala dari blogger singgahan..wkwkwkwkwkwk

      Hapus
  8. haha setuju banget... tulisan bisa jadi sejarah hidup kita, walau dikehidupan sebenarnya kita bukan siapa siapa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. suatusaat sebuah karya kan jadi bintang dalam kematian kita

      Hapus
  9. wih, ternyata gitu ya. bagus juga ceritanya. di gabung dengan cerita cerita zaman nabi dulu. keren :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. nabi..emang ada cerita nabi yak?

      Hapus
  10. setuju bang. hidup kita memang cuman sementar. tapi karya kita akan kekal selamanya, maka nya gue bikin blog *nyambung gaksih*

    BalasHapus
    Balasan
    1. nyambung bang..bener2 itu..
      apalagi bikin buku...pas itu namanya

      Hapus
  11. tulisan merupakan jalan hidup kita , dan Kita hanyalah makhluk ciptaan tuhan yang sempurna tapi belum sempurna sepenuhnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah...menulis yang bermanfaat lebih luar biasa....
      jadi tabungan kita untuk memperbaiki diri

      Hapus
  12. wah ini keren nih, mau nambahin etos yang baik ditopang ama knowledge yang baik pula, makanya selain niat yang baik pula untuk menulis kita harus banyak mencari informasi dan memperluas pengetahuan kita, biar hasil tulisannya punya jiwa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tulisan yang punya jiwa itu tulisan yang bermanfaat ya
      yang bisa jadi revolusi untuk yang membaca...apakah kados ngoten?

      Hapus
  13. bagus sekali penyampaian, aku setuju “hidup memang sementara
    Tapi karya selamanya” Iwan Fals. motivasi! :D

    BalasHapus
  14. hahaha ia bener juga..
    makanya ada tujuan duniawi ..dan akhirat juga :d ya...

    harus balance..!

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bang..mesti balance itu,,,ehehehehe -sok

      Hapus
  15. Menulis saja biar ramaiii :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. emang ada hubunganya tulisan sama ramai

      Hapus
  16. Dari menulis kita juga bisa membukukan kisah hidup kita. Semoga semangat selalu menulisnya:))

    BalasHapus
  17. Bagi aku, menulis itu curcol... semua ide dalam benak, unek-unek, idealism, ptotest tak tersampaikan, full of feeling ya dituangkan dalam menulis menjadi sebuah tulisan tak berujar tapi menyingkap apa yang tersirat... Happy Writing :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya..tapi orang menusli dengan pandangan yang berbeda beda

      Hapus
  18. Bagi aku, menulis itu curcol... semua ide dalam benak, unek-unek, idealism, ptotest tak tersampaikan, full of feeling ya dituangkan dalam menulis menjadi sebuah tulisan tak berujar tapi menyingkap apa yang tersirat... Happy Writing :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi curcol itu terkdanga kalau terlalu fulgar juga nggak baik lho

      Hapus
  19. Bagi aku, menulis itu curcol... semua ide dalam benak, unek-unek, idealism, ptotest tak tersampaikan, full of feeling ya dituangkan dalam menulis menjadi sebuah tulisan tak berujar tapi menyingkap apa yang tersirat... Happy Writing :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau saya lebuh suka menulis yang berbentuk esai sih..eheheheeh

      Hapus
  20. aduh Moti ini bagus banget! hehehe..jadi makin termotivasi buat menulis. bener kata Irwan Fals, kalau kita nulis, kitanya entar udah meninggal pun karya kita akan terus hidup, pemikiran kita akan tetap ada nggak ikut mati.. waaaah, kereeen..kalau begitu mari menulis hal hal yang bisa membuat orang lain menjadi lebih baik atau memberi pelajran untuk orang lain. oke fine *uhuk *benerinkerah

    BalasHapus
    Balasan
    1. he em....menulis untuk hal yang baik dan bermanfaat
      tapi ngomong2....

      mbak mey ini radak2 alay ya :P

      Hapus
  21. gue suka kata loe sob! satu cara terbaik dan termudah yang bisa kita lakukan adalah menulis. NICE artikelnya! xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. nulis nulis nulis....keep writing

      Hapus
  22. iya dan dari dulu salah kitab yg tak pernah bosan2 dibaca bagi saya itu ihya' ulumudin, emang bener bgt

    BalasHapus
    Balasan
    1. ihya' itu gede bnget bang...
      jadi ya mesti intens bacanya....ehehehehe

      Hapus
  23. apakah setan juga bisa membaca niatan yang terbesit di hati kita hehe butuh memang etos kepenulisan:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. menghasut kerjana mbak...emang...tapi sulit gini

      Hapus

Posting Komentar