UN versi Dancok

Semoga gumpalan kebodohan cepat lenyap.
Lantas menjadi cahaya masa depan.
Seperti layangan harapan leluhur

Ujian Nasional ada sebagai bentuk filterisasi generasi. UN ada sebagai tes pantas atau tidak untuk lulus. Meski banyak pro-kontra yang menghiasai keberadaan UN. Toh tetap saja ini sebuah keputusan dari badan resmi yang mengelola pendidikan di Indonesia. Terkhusus pendidikan formal. Semua pihak yang terkait juga paham mengenai sistem UN yang telah beberapa tahun dilaksanakan. Termasuk para pelajar sebagai titik pusat pendidikannya.


Design by : Moti Peacemaker
Yang dancok disini bukan Ujian Nasionalnya yang dibuat. Akan tetapi pelaksanaannya. Menjadi rahasia umum, pelaksanaan UN sering diselimuti dengan berbagai kelicikan yang memuakkan. Beberapa benteng didirikan untuk membenarkan kesalahan sebagai bentuk pengesahan terhadap kecurangan yang telah dilakukan. Benteng berupa argumentasi atau apapun yang pada intinya menyudutkan keberadaan UN dan pantas untuk dicurangi.

Sadar atau tidak, proses kecurangan ini memutar titik tujuan pendidikan. Baik secara individu maupun kecurangan masal. Inti dari Ujian Nasional yaitu sebagai filter atau sarana untuk menyaring yang pantas lulus dan belum pantas lulus. Meski hal ini tentu saja masih menuai pro-kontra dan tak lepas dari kekurangan di berbagai lini. Tapi hal ini juga tidak bisa dijadikan acuan orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk melepaskan diri mereka dari ujian dengan kecurangan yang mereka lakukan.

Sekalipun ketidaksetujuan banyak pihak dengan adanya UN. Akan tetapi tetap saja, semua elemen yang terkait dalam dunia pendidikan harus tetap sportif  dan profesional dalam melaksanakan UN. Jangan mentang-mentang tidak setuju, lantas membuat ulah untuk berbuat curang. Keinginan dari pemerintah juga tidak mungkin secara penuh ingin menjerumuskan anak didik ke dalam lubang kebodohan dan kesalahan. Pasti memiliki niatan baik dalam menentukan konsep dalam penentuan kelulusan yang dirancang oleh pemerintah untuk generasi indonesia ke depan.

Apapun yang menjadi keputusan pemerintah sebagai penaung pendidikan harus ditaati. Keputusan tersebut tidak diambil dari sebuah pendangkalan pemikiran dengan tanpa dilakukan musyawarah. Dan ketika sudah ada keputusan, maka yang kita lakukan adalah menaati. Bila pun tahun depan ada sistem baru untuk menentukan kelulusan, juga harus ditaati. Seperti apapun sistemnya, semua cara yang ditempuh oleh pemerintah, pasti tidak sepenuhnya tidak baik.

Kalaupun tahun depan sistem kelulusan sekolah dirubah. Pasti juga akan ada pro kontra dari masyarakat. Sebab memang cara pandang manusia tidak sama. Keputusan pemerintah kukuh dengan pendidirian sistem kelulusan saat ini bisa dibilang adalah pilihan tepat –dalam satu sisi-. Toh kalaupun pemerintah terus berjalan dengan mengikuti berbagai intervensi dan penyudutan yang dilakukan oleh banyak pihak, tentu pemerintah yang akan terombang ambing dalam ketidakpastian.

Memang kalau terus menuruti keinginan orang-orang yang terus berubah. Nampaknya menjadi pilihan yang sangat tepat apabila pemerintah berada ditempat dan kukuh dengan pendidirian. Disamping menyiapkan cara yang paling tepat menurut sudut pandang mereka untuk bangsa Indonesia kedepan.

Dancoknya kecurangan yang terjadi ini menyingkirkan orang-orang yang susah payah memeras otak untuk mampu keluar sebagai lulusan yang baik. Dan tentu hasilnya sangat jauh dari orang-orang yang dengan tega menikam bangsanya dengan kecurangan yang mereka lakukan. Tentu sangat-sangat mengecewakan orang-orang yang lulus dengan kecurangan dan tidak yakin dengan kemampuan yang mereka miliki.

Akankah terus DANCOK seperti ini?

Salam

Komentar

  1. seolah semua jadi tradisi yg lumrah dilakukan tiap UN, miris memang .
    tapi ya mau bagaimna lagi jika dari pihak penguasanya saja sudah mengajarkan perbuatan curang, dengan dalih untuk menjaga reputasi sekolah .

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini seharusnya jadi pelajaran dimasa mendatang..
      kita tidak mungkin terus seperti ini,,

      bangsa kita bangsa besar

      Hapus
  2. Ahhh jadi sedih sama UN waktu lalu :/ Ahhh galau

    BalasHapus
    Balasan
    1. memangnya kenapa...ada yang salah dengan UN yang kemarin?

      Hapus

Posting Komentar