7 Hari Mencari Tuhan


http://i.livescience.com/images/i/000/019/394/original/Hurricane-Irene-florida.jpg
Rumah pak kaiman tampak ramai. Orang-orang bergerobol tak henti-hentinya berdatangan. Celoteh-celoteh, bisikkan-bisikkan, keriuhan semuanya tak tertinggalkan. Obrolan kesana kemari menjadi hal yang biasa. Lingkaran-lingkaran kecil di halaman rumah ini menjadi pemandangan yang biasa selama 5 hari ini. Entah apa sebenarnya yang dilakukan orang-orang yang berdatangan itu. Entah hanya bergerombol sambil menyalahkan orang lain. Ngerasani, atau apa lagi.
Sudah 5 hari anak pak kaiman tak pulang ke rumah. Dan tak diketahui dimana keberadaannya. Tak ada kabar dan informasi sedikitpun tentang joki, anak pak kaiman. Pak kaiman sendiri tidak tahu mengapa joki tidak pulang. Joki tidak memberi tahu hal pada ayahnya sama sekali. Mengapa dan untuk apa ia pergi.
Derai air mata dari bu sukinah tak berhenti hingga kini. Ia tak habis pikir, anaknya itu bisa minggat. Padahal ia merasa, bahwa ia tak pernah memperlakukan joki dengan kasar. Begitu juga dengan pak kaiman. Bisa, dibilang, joki anak yang sangat disayang. Ia adalah anak ke-2 dari 3 anaknya. Dan jokilah yang paling pendiam.
Memang akhir-akhir ini joki sering bersikap aneh. Setelah sekolah, ia jarang sekali di rumah. Pulang sering pagi, sebelum subuh. Namun, setiap kali ditanya kemana saja. Jawabanya selalu berbeda-beda. Terkadang ke rumah teman, kadang-kadang main, kadang-kadang kerja. Dan sebagainya.
keluarga pak kaiman memang keluarga yang kurang mampu. Rumah berdinding full kayu. Atap genteng yang sudah bisa dibilang, 50:50 antara yang bergenteng dan yang bolong. Rumah yang mungkin lebih tepat ditempati oleh keluarga kambing. Atau bahkan mungkin, keluarga kambing pun tak betah tinggal dirumah ini.
Kala hujan turun, bisa dipastikan mereka akan basah kuyup. Rumah ini tak luas, diisi 3 orang saja, mengatur tempat untuk tidur sudah sangat uyel-uyelan. Apalagi ini ber-5. Namun, tetangga di sekitar rumah keluarga pak kaiman ini tak pernah mendengar keluhan pak kaiman dan keluarganya sama sekali.
Pak haji romli pernah menawarkan untuk tinggal di kontrakan miliknya tanpa harus membayar. Namun pak kaiman menolaknya. Ia merasa lebih nyaman tinggal dirumahnya itu. Katanya lebih leluasa untuk melihat kekuasaan dan segala kemahaan Allah di rumah itu. Entah hanya guyonan atau benar-benar dari hatinya yang terdalam.
***

Akhir-akhir ini, joki memang tampak lebih aneh. Remaja yang biasanya sangat pendiam itu lebih agak kritis. Lebih berani bicara. Tak seperti biasanya yang hanya menjadi pendengar. Seperti saat pemakaman tetangganya, biasanya di desanya, bila ada orang yang meninggal, ada doa bersama orang se-RT. Namun tetangganya ini tidak ingin untuk mengadakan doa untuk keluarganya yang meninggal itu. Dengan alasan yang dianggap joki tidak tepat. Dan aneh.
“ Buat apa doa-doa untuk orang mati segala, toh doanya nggak akan ngaruh “
Joki yang biasanya hanya diam . Entah dulu hanya memendam kritik-kritik yang menumpuk dalam hatinya ataukah memang tidak punya kritik sama sekali.
Tak seperti biasa, joki yang jarang sekali menanggapi omongan-omongan orang sekalipun itu kontroversial kini mulai berani unjuk diri.
Dengan suara keras, joki berdoa di depan banyak orang yang melayat pemakaman tetangganya itu.
“ Ya Allah, masukkan jenazah ini ke dalam neraka-Mu”
Sontak orang yang ada disana terdiam memandang Joki yang seperti tampak serius dengan doanya itu.
Keluarga almarhum pun dengan segala kekesalan menghardik joki habis-habisan. Pisuhan dan kemarahan pada joki berlangsung lama sekali. Namun joki Nampak santai dengan hardikan dan pisuhan yang melayang berterbangan untuknya. Orang yang ada di situ pun hanya terdiam menyaksikan kejadian yang langka ini. Mungkin ada rasa bimbang dalam hati mereka semua. Melerai sama halnya menghentikan geliat orang kaya yang sedang menghujat anggota keluarga miskin ini. Namun, disis lain mungkin mereka juga kasihan melihat joki yang masih berumur belum genap 17 tahun itu dihujat habis-habisan.
Hujatan yang malayang pada joki selesai, joki dengan santainya bertanya pada sang penghujat. Tak tampak rasa takut pada raut wajah manisnya.
“ sudah selasai bicaranya ?” pertanyaan joki tadi semakin membuat orang yang ada di pemakaman diam tak berdaya. Mungkin sedang bertanya-tanya. Ada apa dengan joki, hingga berani bicara dengan santai. Padahal ia jarang sekali bicara. Dari mana ia belajar bicara dan mendapat keberanian seperti itu.
Wajah pihak kelurga almarhum pun mulai memerah, dan dengan respon cepat, seorang laki bertubuh besar menampar muka joki.
Namun entah apa yang terjadi pada joki. Ia malah mengacungkan jempol sambil tersenyum pada orang itu. Dan berkata
“ anda tidak konsisten !”
“ apa maksutmu ?” Tanya lelaki itu garang.
“ hem...” joki tersenyum kecil “katanya doa pada orang yang meninggal tidak ngaruh. Lelu kenapa anda marah setelah saya berdoa pada Allah agar orang ini dimasukkan neraka. Toh doa saya tidak akan  ngaruh pada keluarga anda yang sudah meninggal ini, anda ini bagaimana. Dimana konsistensi anda, ha ?
Dengan wajah yang tampaknya semakin kesal, lelaki itu dan anggota keluarganya pun meninggalkan joki dan orang-orang yang melayat. Orang yang melayat pun hanya bisa terdiam dan melongo melihat kejadian yang heboh ini.
Seorang anak kecil yang mungkin sebaya dengan joki menghampirinya. Dan menepuk pundaknya. Seraya berkata
“hey…berani juga kau bicara seperti itu, ada apa sebenarnya denganmu. Kau hebat” Tanya teman joki sambil tersenyum bangga.
“ hem…untuk apa aku takut. Aku punya Tuhan yang kan membelaku selagi aku benar. Aku sedang gandrung dengan Tuhan” jawab joki lalu berjalan pulang.
***
joki melangkahkan kaki sebisanya, dengan sisa-sisa tenaga  tubuhnya. Aungan serigala, suara merdu jankrik, dan suara dan suasana khas malam dihutan menemani perjalanannya mencari Tuhan. Namun sampai kini ia tak memukan dimana Tuhan berada. Ia telah menyusuri segala tempat untuk mencari keberadaan Tuhan ini. Lautan, Gua, gunung, dan yang lain telah ia telusuri untuk mencari dimana Tuhan sebenarnya. Yang katanya mengatur Segalanya yang ada di bumi, Dunia, jagad raya, atau bahkan mungkin tempat yang lebih besar lagi yang tak pernah ditemukan oleh manusia.
Ia telah menjalani detik, menit, jam, dan harinya untuk berkelana. 6 hari sudah ia tak pulang. Untuk tujuan mencari keberadaan Tuhan. Ia sedang gandrung dengan Tuhan yang menciptakannya, dan membela apa yang seharusnya dibela.
Semangat bertemu Tuhan yang masih berkobar di sisa-sisa tenaga tubuhnya yang semakin lemah. Perutnya tak bisa kompromi. Joki mamang terlalu mengobarkan keinginannya bertemu Tuhan, hingga ia tak memikirkan keadaan perutnya yang telah ingin diisi.
Buah mangga didepannya semakin membuat perutnya keroncongan. Joki pun mengambil buah yang tampaknya sudah sangat matang ini. Joki mencari tempat yang tepat untuk menyantap makanannya ini.
Ia terus berjalan sambil mencari-cari tempat yang tepat untuk menikmati buah papaya yang ia temukan dan juga untuk ia istirahat. Tubuhnya yang gontai harus segara mendapat tempat untuk menyantap makanannya ini, juga tempat istirahat bagi tubuhnya.
Joki melihat sebuah Rumah kecil yang berdisain sangat indah. Ia bingung, apakah ini hanya halusinasinya belaka atau memang benar-benar ada.
“Tapi, juga mana mungkin, ada rumah yang seindah itu di hutan yang luas seperti ini.” Gumam joki dalam hati
Ia mendekati rumah yang nampaknya kosong tak berpenghuni itu. Ia tak ingin masuk, karena siapa tahu ini berpenghuni. Ia mengambil tempat di teras depan rumah itu. Dan bersiap menyantap makanannya. Joki pun berdoa sebelum menyantap makanannya. Lalu memandang buah mangga itu.
“ Oh Tuhan…banyak sekali kutemui ke Maha dari segala Maha-Mu. Namun tak juga aku dapat melihat-Mu. Aku ingin melihat-Mu Tuhan. Dan bertanya tentang segalanya Tentang-Mu. Aku sangat Ingin Bertemu Dengan-Mu, Tuhan” ucap Joki dengan suara yang keras.
Setelah menghabiskan makanannya, Joki pun berbaring untuk meluangkan waktu untuk mimpinya. berharap dapat bertemu dengan Tuhan dalam mimpi-mimpinya malam ini. Mungkin itu belum cukup untuk memuaskan dirinya bertemu dengan Tuhan. Tapi paling tidak, dapat sedikit melihat bagaimanakah Tuhan sebenarnya. Ia pun berdoa dalam sebelum berangkat ke alam mimpi.
“ Ya Tuhan. Yang menciptakan aku dan segalanya. Yang menjatuhkan dedaunan dari tangkainya. Yang mengalirkan air pada jalurnya. Yang memberikan segalanya. Yang menghilangkan segalanya. Yang maha kuasa. Yang maha dari segala maha. Perkenankan aku bertemu dengan-Mu. Walau hanya dalam mimpiku yang akan Engkau atur ini. Ya Tuhan, tunjukkan jalanku bertemu dengan-Mu dalam hidup yang sebenarnya. Tidak hanya dalam mimpi belaka. Tunjukkanlah Wahai Tuhan. Aku tahu tak ada yang tak mungkin bagi-Mu. Amin”
Joki pun tertidur dalam sepi manusia ramai suara. Suara hewan-hewan yang berada dalam hutan luas ini. Suara dedaunan yang tersapu angin. Suara ranting-ranting yang jatuh dari pohonya. Dan suara-suara yang tak terdengar oleh Joki. Suara makhluk Tuhan yang tak dapat dilihat oleh panca indera biasa. Syetan, iblis, jin, malaikat dan yang lainnya.
Dinginnya pagi tak membangunkan joki dari tidurnya. Mungkin ia terlalu lelah. Tubuhnya yang krempeng bisa dianggap tidak kuat dengan perjalanan pencarian Tuhannya yang tak hanya sedikit sekali meluangkan waktu untuk beristirahat. Tapi kenyataan berkata lain, ia masih tetap berdiri tegap mencari Tuhan.


Bersambung


Cerpen pertama ...4 tahun yang lalu

Komentar

  1. hehehehe..mohon maaf yang sebesar besarnya,,,
    cerpen ini sangat semrawut

    BalasHapus
  2. bagus cerpennya...
    seorang remaja yang sangat ingin bertemu tuhan...
    tp berani juga yahh dia bilang gitu... :|
    jelas aja dihujat habis2an sama keluarga jenazah...
    lanjutannya ada gak nih??

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya jleas berani lah ...
      lawong cuma cerpen..ehehehehe

      ada kok..tapi kalau jadi satu,..terlalu panjang

      Hapus
  3. Wah berani ya blg gitu dia hohoho..
    Lanjutan ceritanya jgn kelamaan ya hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. eheheehehehe,,kok pada mempermasalahkan dipemakaman yak....

      Hapus
  4. wah, ngeri juga si joki pas di pemakaman......

    masing besmbung, yak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ho oh..bersambung..semoag gak bosen..wkwkwkwkwk

      Hapus
  5. wah ngeri banget yang pas d pemakaman....... ngmngnya seenaknya aj

    BalasHapus
  6. Agak kaget pas ngebaca bagian Joki berdo'a di pemakaman..
    Muehehehehehe

    Ditunggu lanjutannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. haduh,,,meprihatinkan banget kayaknya

      Hapus
    2. awalnya rada males bacanya karna tulisannya kecil-kecil bgt-___-
      tapi bocil terusin kok:)
      itu si Joki bikin............... *skip*

      Hapus
  7. bang ini cerpen yah ?? gue kirain pengalaman pribadi loh,,

    panjang banget...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ehehehehe..maaf, ceritany kemana mana

      Hapus
  8. sadis doanya bro..tapi salut juga ama keberaniannya..wkwk
    koreksi pada kalimat ini :
    "Suara makhluk Tuhan yang tak dapat dilihat oleh panca indera biasa. "

    seharusnya suara tak dapat didengar bro..hehee
    but overall it's oke, lanjutkan..jarang2 orang bikin cerpen yg berbau religi :)...bosan juga kalau cinta2 terus

    BalasHapus
    Balasan
    1. jiah,,,keliatan bodohnya dah gua...haduuuuhhhh

      maaf,,maaf..akan segera saya edit

      Hapus
  9. wuih..
    keren cerpennya.. :D
    dia berani banget ngomong begitu.. :)
    ada lanjutannya kan? di tunggu lanjutannya.. :D

    BalasHapus
  10. cerpennya bagus, tema yang diangkatnya unik dan fresh .
    langsung ah baca lanjutannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ehehehehehe..sering2 mampir yak

      Hapus

Posting Komentar