Tidak Ada Sekolah Yang Mencerdaskan (part 1)


Setelah ujian selesai seperti saat ini. Banyak lulusan dari berbagai sekolah yang mulai mencari tempat berlabuh untuk meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Dari SD menuju SMP, dan dari SMP menuju SMA. Sekolah unggulan atau sekolah favorit pun menjadi serbuan banyak kalangan yang menginginkan penyaluran pendidikan yang dianggap paling baik. Dan tak perlu heran dengan banyak antrian siswa baru yang berharap namanya masuk dalam daftar nama yang diterima sebagai siswa sekolah seutuhnya. Bahkan ada yang rela menggunakan “uang pelicin” untuk bisa menembus sekolah yang diinginkan.
Pada dasarnya tidak ada satupun sekolah yang mampu mencerdaskan anak didiknya. Satupun tak ada ! sebuah sekolah hanya sebagai penyalur pengetahuan. Dan muara atau pusat yang dituju oleh pengetahuan dalam hal ini adalah seorang pelajar. Maka kesimpulannya, yang mampu mencerdaskan seorang pelajar adalah seorang pelajar sendiri. Dengan kemauan menjadi cerdas yang dibarengi dengan usaha untuk mewujudkannya.
Bukan berarti ini tidak menghargai sekolah. Tidak sama sekali. Hanya untuk sedikit membuka mata, pikiran dan perasaan, bahwa sebenarnya sekolah unggulan ataupun tidak adalah sama saja. Yang menjadi kunci dari hasil pembelajaran adalah pelajar sendiri. Kalau memang ada kemauan dan cc (consisten and commitmen) untuk menjadi cerdas, maka tidak harus berada di sekeolah unggulan yang mahal. Dengan giat belajar, dan melakukan sebuah hal yang searah dan tepat untuk menunjang membaiknya kecerdasan otaklah yang sebenarnya paling dibutuhkan.
Semisal, bagaiamanapun baiknya sebuah sekolah dengan “predikat” standart internasional, kalau mayoritas yang masuk sekolah tersebut adalah brandal yang memang tak memiliki minat yang baik untuk mencari ilmu. Maka, untuk membangun kecerdasan pelajar yang searah dengan materi pelajaran sekolah akan sangat sulit terwujud. Begitu pula dengan sekolah hanya seadannya. Kalau yang masuk adalah pelajar-pelajar yang memiliki minat yang tinggi untuk menjadi manusia cerdas. Maka, hasil yang didapat adalah sebuah keberhasilan karena consisten and commitmennya untuk mewujudkan keinginan menjadi manusia yang berwawasan. Perbedaannya hanya pada fasilitas. Sekolah besar relatif mendapat sokongan dana yang besar.
Nah ! apa kesimpulannya. Silahkan disimpulkan sendiri dengan sudut pandang masing-masing.
Yang pasti (kesimpulan pribadi saya), kunci dari keberhasilan sekolah adalah seorang pelajar yang berkeingina kuat menjadi pribadi baik yang diinginkan. Atau kalau saya boleh agak sedikit membela diri, keinginan kuat untuk menjadi orang yang cerdas, berwawasan, sukses, ini juga berlaku bagi sosok manusia yang tak merasakan pendidikan formal.

@bersambung

Komentar

  1. Bener, tergantung adanya kemauan dan dibarengi dengan usaha. Salam BE! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya.....kamauan dan sinkron dengan yang dijalankan

      Hapus
  2. yaps setuju gua, pepatah bilang dimanapun sekolahnya yg penting otaknya :)
    salam BE \m/

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkwkwkwkwkwk..yangpenting orangnya

      Hapus
  3. sebenernya faktor pengajar itu juga pengaruh loh..kalo pengajarnya bisa memotivasi dan berkualitas ya bisa mencerdaskan muridnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. em..iya
      tapi kalau muridnya bebal..apa mau dikata
      tidak ada keinginan untuk bisa...sama dengan kosong

      hehehehe...tapi kalau gurunya kasrimatik (kayak saya :P *fitnah*)mungkin saja bisa. ada saatnya memang guru mengambil hati para murid dengan baik.

      Hapus
  4. saya sering ditanyai oleh beberapa rekan: "Din/Miss Dini/kak Dini, kursus Bahasa Inggris yang bagus itu di mana sih?", dan selalu saya jawab, "Semua tempat belajar itu bagus, hanya untuk yang mau belajar. Kalau masuk ke tempat belajar tapi ternyata malah ga belajar/tidak praktek, ya walopun yang ngajar profesor yang sekolah lebih tinggi dari S3 pun, takkan bisa bikin kita jadi pinter berbahasa Inggris". Berlaku juga untuk pelajaran/tema lain tentunya :)

    Allah juga sudah menyatakan hal ini dalam AlQur'an surah 13 ayat 11 kan ya :) Takkan berubah nasib suatu kaum, sampai mereka mau mengubahnya sendiri..

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah..ini kita searah pemikirannya dengan saya,,,"
      soalnya saya pernah merasakan asyiknya tidak bersekolah..
      dalam artian..ada sebuah keseriusan dengan belajar secara otodidak dan mencari ilmu dalam lingkup tidak formal..
      yang mebuat saya sadar,bahwa semua hal tergantung pergerakan kita...

      Hapus
  5. ya sih tergantung pelajar nya juga.. tapi nambahin peran guru sebagai motivator untuk belajar juga kayaknya penting. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iy...itu juga penting..sebagai peningkat keseriusan belajar

      Hapus
  6. mungkin lebih tepat diganti dengan "sekolah membantu mencerdaskan".

    BalasHapus
    Balasan
    1. ehehehehe.....terima kasih..ternyata postingan saya terputus..ada argumen untuk menguatkan judulnya sebenernya

      Hapus
  7. bener semua tergantung individunya aja. sekalipun dia sekolah RSBI tapi kalau individunya malas ya sama aja boong

    BalasHapus
    Balasan
    1. ho oh..setuju banget.....gua suka gaya lo :)

      Hapus
  8. BEtul,, setuju sekali..
    Cuma label doang yg berstandar internasional, pdhal menurutku, itu cuma cara baru skolah buat nyari tmbahan uang..
    Wong yg dipelajari juga sama, guruNy jg sama, Cm fasilitasNy aja yg beda,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. ehehehehehe.....iya. saya mikir juga gitu. beberapa hal janggal untuk mendewakan sekolah tertentu. apalagi dengan berbagai uang yang ada...hadeh..sadis banget

      Hapus
  9. sekolah tetep perlu tapi sekolah hanya sebagai tempat untuk belajar bersosialisasi sedangkan ilmu sebenarnya di dapat dari pengalaman....

    BalasHapus
    Balasan
    1. ehehehehehe.kalau kata guru bahasa indonesia saya juga gitu,,,,,
      sarana interaksi dan sosialisasi...
      dan tidak sekolah pun tak masalah,,ehehehe

      Hapus
  10. Tergantung orangnya juga. Kalau udah pinter mah sekolah mana aja gak ngaruh. Hee :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. mau sekolah atau enggak juga nggak ngaruh ya

      Hapus
  11. yang mampu menjadikan anak didik ya Tuhan YME, gitu aja kok repot

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang sudah jelas tidak perlu dibahas :P

      Hapus
    2. sedikit perlu menurut saya

      Hapus
    3. iyalah...tapi itu kan udah pasti

      Hapus
  12. sebagus apapun sekolah itu, kalo individunya sendiri gak berkeinginan buat maju, itu sama aja..
    Beda kalo sekolahnya emang bertaraf bagus dan siswanya juga berkeinginan untuk maju dan belajar maka terciptalah SDM yang mumpuni..

    BalasHapus
    Balasan
    1. haduh....ini yang manteb banget....
      bisa jadi keren bener indonesia kalau kayak gini

      Hapus
  13. Kyaknya beda sama skolah gw, bang... Kyaknya sih

    BalasHapus
  14. kalo menurut saya, ya itu semua tergantung dari pribadi masing-masing orang aja..
    kalo emang orang itu puna kemauan keras untuk belajar, di manapun dia sekolah pasti dia akan pintar..
    pintar itu relatif kok..

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah...bener banget...
      ini yang sudah saya bahas diatas....tunggu parr 2 nya...ehehehe

      Hapus
  15. skolah rsbi sama yg biasa aja ada yg bagusan yg biasa ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah...lalu apa guna rsbi dong galau malah kalah kualitas

      Hapus
  16. sekolah pakai uang pelicin...
    wahh...ini nihh yg sering dibilang..
    "kalau gak punya uang ya jgn sekolah"
    jadi...apa orang yg gak mampu namun punya keinginan kuat buat belajar gak boleh duduk dibangku sekolah??

    BalasHapus
    Balasan
    1. ehehehehehe..saya bilang kan ada..bukan berarti seluruhnya

      Hapus
  17. setidaknya siih menurut gue lingkungan sekolah juga punya pengaruh besar terhadap pembentukan watak siswa ..

    bisa dilihat outut dari sekolah elit dan sekolah pinggiran ..
    beda ,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah..tepat..saya juga sedang menulis tentang pembentukan karekteristik
      searah lah :)

      Hapus
  18. semua itu kembali lagi ke pribadi masing-masing. selama mereka punya tekad dan kemauan yang besar, gak ada yang gak mungkin.
    Salam BE ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sip...itu yang saya maksud..
      Salam blog energy..saling memberi energy ya :)

      Hapus
  19. Yups... Setuju. Semuanya kembali ke pribadi masing-masing.

    BalasHapus

Posting Komentar